Outlook Sawit 2026 Stabil, CSRA Tancap Gas Ekspansi dan Bidik Lahan Baru di Sumsel
InfoSawit.com (30/03/2026) - Laporan Outlook Industri Kelapa Sawit Q1 2026 yang dirilis Indonesian Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) pada Februari 2026 menyebutkan bahwa keseimbangan pasar sawit global pada awal tahun berada dalam kondisi relatif ketat namun tetap stabil.
Dalam laporan tersebut, program mandatori biodiesel B40 disebut masih menjadi jangkar utama permintaan domestik. Meski rencana peningkatan ke B50 mengalami penundaan, serapan energi berbasis crude palm oil (CPO) tetap tinggi dan menjadi penopang pasar.
IPOSS juga mencatat adanya perubahan struktur pasar sawit Indonesia dibanding satu dekade lalu. Permintaan domestik kini menjadi komponen utama penyeimbang produksi, bukan lagi sekadar sisa setelah ekspor.
Dari sisi harga, laporan tersebut memproyeksikan CPO global bergerak di kisaran USD 962–1.030 per ton CIF Rotterdam pada semester I 2026. Dengan asumsi nilai tukar Rp16.900 per dolar AS, harga setara berada di rentang Rp16.873–17.605 per kilogram.
“Proyeksi ini mencerminkan kecenderungan bullish moderat, didukung pasokan minyak nabati global yang relatif ketat serta dinamika energi dan geopolitik,” catat laporan IPOSS.
Direktur Keuangan & Pengembangan Strategis CSRA, Seman Sendjaja, mengungkapkan bahwa Perseroan terus aktif mencari peluang ekspansi lahan baru. “Perusahaan telah menerapkan strategi yang komprehensif untuk secara aktif meninjau dan mengidentifikasi berbagai peluang dalam mengakuisisi lahan baru yang memiliki potensi untuk dikembangkan,” ujarnya, dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Senin (30/3/2026).
Ia menambahkan, Perseroan saat ini membidik pengembangan lahan di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang berdekatan dengan area operasional PT Daya Agro Lestari. “Pengembangan ini dinilai strategis untuk mempermudah integrasi operasional, meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya, serta mengoptimalkan infrastruktur dan sistem logistik yang sudah tersedia,” jelasnya.
Ke depan, lahan tersebut direncanakan akan dikelola oleh entitas anak lainnya, yakni PT Bintang Kenten Lestari.
CSRA menilai tahun 2026 sebagai momentum penting dalam pelaksanaan strategi jangka panjang. Fokus utama Perseroan diarahkan pada penguatan arus kas guna mendukung ekspansi berkelanjutan.
“Direksi memprioritaskan penciptaan arus kas yang kuat dan berkelanjutan untuk menjaga stabilitas keuangan, meningkatkan efisiensi operasional, serta memastikan tersedianya sumber pendanaan internal bagi pengembangan usaha,” ungkap Seman.
Dengan strategi tersebut, CSRA optimistis dapat memanfaatkan momentum pasar yang relatif kuat sekaligus menjaga kinerja keuangan yang sehat dalam jangka panjang.