PALM NEWS MALAYSIAN PALM OIL BOARD Tuesday, 07 Apr 2026

Jumlah Bacaan: 332
MARKET DEVELOPMENT
Program Mandatori B30 Jalan Terus
calendar14-08-2020 | linkinvestor.id | Share This Post:

14.08.2020 (investor.id) - JAKARTA, investor.id – Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyebutkan, pemerintah dan semua pemangku kepentingan bertekad untuk meneruskan program mandatori pencampuran biodiesel 30% (B30), meskipun harga minyak bumi terus merosot dan pandemi Covid-19 berpotensi makin mengurangi penggunaan biodiesel di pasar domestik. Pada Maret 2020, konsumsi biodiesel di pasar domestik masih sebesar 784.266 kiloliter (kl) namun pada Juni turun menjadi 643.602 kl.

Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan mengatakan, pandemi Covid-19 membuat konsumsi biodiesel di pasar domestik terus menurun, terutama sejak kasus Covid pertama merebak pada Maret tahun ini. Secara rinci, konsumsi biodiesel pada Januari 2020 sebesar 683.433 kl, pada Februari menjadi 769.784 kl, pada Maret 784.266 kl, April turun menjadi 643.132 kl, Mei 669.791 kl, dan pada Juni hanya 643.602 kl.

“Sampai Juni, konsumsi biodiesel domestik 4,19 juta kl, secara total memang berkurang tapi tidak lebih dari 10% dari target kami, dan harapan kami sampai akhir tahun kalaupun turun juga tidak lebih dari 10%. Tapi kami informasikan bahwa meskipun banyak tantangan, program B30 sudah diputuskan jalan terus," kata Paulus di Jakarta, kemarin.

Dalam data Aprobi, produksi biodiesel nasional pada Januari-Juni 2020 mencapai 4.876.404 kl dengan konsumsi domestik 4.194.008 kl. Rincian produksi adalah Januari 2020 sebesar 895.547 kl, Februari 898.487 kl, Maret 910.595 kl, April 841.353 kl, Mei 685.369 kl, dan pada Juni hanya 645.053 kl.

Sejak harga minyak bumi merosot, ekspor biodiesel Indonesia sangat minim karena memang permintaan merosot dan juga karena banyak hambatan dagang atas komoditas tersebut, bahkan pada Juni 2020 ekspor biodiesel RI tidak lebih dari 10 ribu kl.

Lebih jauh Paulus mengatakan, agar program mandatori B30 tetap berjalan di tengah banyak tantangan memang terdapat sejumlah hal yang perlu dilakukan.

Rinciannya, penyesuaian dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) seperti menaikkan pungutan ekspor, pengurangan rentang harga solar dan biodiesel dan ini sudah dilakukan dalam tiga bulan ini, serta janji adanya pemberian dukungan anggaran dari pemerintah.

"Dengan kondisi pandemi ini, investasi biodiesel juga melambat, baik untuk pengembangan maupun investasi baru. Tapi anggota kami tetap berupaya mempercepat investasi baru, pandemi membuat tenaga ahli yang dibutuhkan untuk membangun pabrik terhambat masuk ke Indonesia, tapi ini akan dipercepat," jelas Paulus.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) Tungkot Sipayung menyatakan, di tengah pandemic Covid-19 ini yang mana banyak negara belum sepenuhnya pulih ekonominya, Indonesia sudah sangat tepat apabila memperbesar pasar domestik dengan komit menjalankan program B30 secara efektif.

 

“Jangan ditunda atau diperlambat tapi harus dilanjutkan dan diefektifkan karena untuk saat ini sulit mengandalkan permintaan internasional,” kata Tungkot.

 

Tungkot menuturkan, yang akan membangkitkan harga tandan buah segar (TBS) sawit petani tentunya program B30, B30 akan menjadi lokomotif untuk menarik industri sawit hulu-hilir.

 

“Bagaimana supaya jalan dan efektif di tengah pandemi, caranya pemerintah bisa memberi stimulus kepada BUMN dalam hal ini PT Pertamina, kasih uang ke Pertamina, sehingga bisa membeli biodiesel sesuai harga yang ditetapkan, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terserap, harga TBS bagus. Besarannya tidak harus besar,” jelas Tungkot.

 

Pendanaan Sawit Rakyat

Pada bagian lain, anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron mengatakan, dana BPDPKS harus bisa menjadi stimulus bagi para petani sawit untuk naik kelas saat pandemi Covid-19. Pendanaan kelapa sawit rakyat seharusnya memang tidak hanya melalui satu pintu, yaitu dari BPDPKS, karena jumlahnya setiap tahun hanya Rp 20 triliun, petani mestinya bisa mendapat kredit komersial.

 “Petani bisa menggunakan kredit komersial tapi dengan permasalahan yang dihadapi petani saat ini tentu sulit bagi mereka mendapatkan dana dari perbankan,” jelas Herman.

Fungsi kelapa sawit selama ini adalah untuk mengentaskan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi di daerah terpencil, pembangunan perdesaan, menciptakan lapangan pekerjaan, sumber devisa negara, dan ketahanan energi. Untuk itu, pembiayaan sawit harus mengarah untuk meningkatkan fungsi tersebut. Dengan skala keekonomian saat ini, pembiayaan sawit petani tidak perlu skim kredit khusus tetapi bisa kredit komersial. Masalahnya, petani banyak terkendala legalitas lahan dan produktivitas rendah.

“Dampaknya, akses pendanaan sulit, harga TBS rendah, kadang ada pabrik yang tidak mau menerima, mata rantai panjang, dan adanya potongan dari pabrik. Bank pun sulit memberikan kredit komersial pada petani karena tidak yakin mampu melunasi. Karena itu, petani perlu stimulus dari dana BPDPKS tersebut,” jelas Herman. (tl) Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul "Program Mandatori B30 Jalan Terus"

Read more at: http://brt.st/6Heh